Kemarin ada seorang teman bertanya: “Manakah yang lebih baik,
orang yang sholat tapi ia juga doyan berbuat zolim dan maksiat, suka ngejekin orang,
mencibir tetangga, zolim terhadap rakyatnya (pokonya kriminalis be ge te deh…).
Atau orang yang tidak sholat, tapi ia malah sering berbuat kebaikan, memiliki
jiwa sosial yang tinggi, tidak suka ngomongin orang, tidak zolim pada siapa
pun.
Saya bingung….akhirnya saya mencoba untuk melepaskan diri
dari kedua pertanyaan tersebut sambil bergumam, “Kaya’nya orang yang sholat
kemudian juga berbuat kebaikan dan mampu mencegah dirinya dari kemungkaran
jumlahnya tidak sedikit kok…”.
Memang ada yang mengatakan bahwa sebetulnya orang yang
berbuat kebaikan -meskipun ia tidak sholat- itulah sesungguhnya orang yang
sholat. Karena ia bisa mengimplementasikan fungsi sholat yakni Tanha ‘an
al-fahsya wa al-munkar..”. tetapi bukankah Rasulullah mengingatkan kita: “Man
taraka as-sholata muta’ammidan faqad kafara jihaaran”. Yang membedakan kita
dengan kaum tidak beriman di antaranya adalah dengan sholat. Namun ketika ada
realitas orang yang sholat tapi juga rajin bermaksiat alias tidak bisa mencegah
dirinya dari berbuat keji dan munkar, maka terlalu naif kalo lantas kita
menyalahkan perintah sholatnya….
Rasulullah mengabarkan: “Amal pertama hamba yang dihisab
di hari kiamat adalah sholat, apabila sholatnya benar, maka amal yang lain pun
akan benar…”. Jadi kalimatnya di sini menggunakan lafaz “shaluhat” yang
biasa diterjemahkan: “benar”, atau “bagus”. Tidak menggunakan lafaz “aqomat”
yang artinya “telah melaksanakan”, atau “menunaikan”, atau “melaksanakan”
(mendirikan sholat an sich maksudnya…). Jadi menurut hemat saya neh ya
(kalo salah, ya maaf), yang menyebabkan sholat kita tidak berdampak kepada
perilaku yang baik adalah bagaimana kita melakukannya…(dalam keadaan ikhlas ga
niatnya?…).
Perihal lain tentang sholat, kata Rasulullah: “as-Sholatu
mi’raj al-mu’minin” (sholat adalah mi’raj-nya kaum beriman). So,
melalui sholat kita juga bisa berdialog langsung dengan Allah seperti Nabi Berdialog
ketika mi’raj. Tetapi dialog versi kita ini barangkali hanya bisa
dirasakan oleh orang yang benar-benar mu’min, yang begitu “menikmati”
sholatnya. Dan sepertinya itulah titik kulminasi (puncak keintiman) kita
dengan-Nya, sholatlah sebagai medianya.
Kenapa seh kita harus sholat? Kalo sekedar untuk mengingat
Allah kan tidak mesti dengan sholat? Begitulah kira-kira di antara pertanyaan kita
seputar sholat. Apapun tafsiran kita tentang sholat, ia tetap ibadah mahdhoh,
ibadah yang ghairu ma’qulati al-ma’na, tidak bisa dicerna oleh otak
manusia. Dan kalaupun ada penemuan-penemuan orang tentang hikmah sholat (sholat
perspektif Ilmu Kesehatan misalnya), ya itu seh halal-halal saja…
Yang jelas nih ya, jangankan Allah, kita manusia saja ketika
ingin mengetahui “loyalitas” anak buah, teman, atau saudara, itu perlu bukti
kan?
Seperti kata teman saya (yang ini sih lain lagi perpektifnya):
“Sholat merupakan wahana agar kita selalu dalam kondisi on line, minimal
dalam sehari 5 kali”.
Yup!!, ketika kita dalam kondisi on line, berarti kita
sedang terkoneksi dengan Allah. Maka kalo ada virus–virus yang mau masuk, anti
virus akan segera mendeteksinya, yah kalau mau, bisa langsung didelete. Karena kondisi on line membuat anti virus senantiasa ter up
date secara otomatis…so, mau kena virus atau tidak?
Karena sejatinya, kita bukanlah makhluk bumi yang memiliki jiwa spiritual. Tapi kita adalah makhluk spiritual yang cuma nebeng di muka bumi….
(Banjarmasin, 23 Okt 07)
