header image
 

Sistem Jaringan

Yup!!, ketika kita dalam kondisi on line, berarti kita
sedang terkoneksi dengan Allah. Maka kalo ada virus–virus yang mau masuk, anti
virus akan segera mendeteksinya, yah kalau mau, bisa langsung didelete. Karena kondisi on line membuat anti virus senantiasa ter up
date
secara otomatis…so, mau kena virus atau tidak?
Karena sejatinya, kita bukanlah makhluk bumi yang memiliki jiwa spiritual. Tapi kita adalah makhluk spiritual yang cuma nebeng di muka bumi….

(Banjarmasin, 23 Okt 07)

Tahura

(Banjarmasin, 22 Okt 07) 

Watsap men…..!!!

Banjarmasin, ia hanya sebuah kota yang berada di sebuah kepulauan Kalimantan. Kalimantan, hanya bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berada di sebuah planet yang bernama bumi. Bumi yang kita tumpangi ini, bersama dengan planet-planet lain dan bintang-bintang yang jumlahnya tak terhingga itu berkumpul dalam sebuah matahari. Matahari yang sama dengan matahari kita, jumlahnya ratusan juta dan semua terhimpun dalam sebuah galaksi yang bernama galaksi Bimasakti. Galaksi serupa, jumlahnya ratusan juta bahkan ada yang mengatakan milyaran ataupun trilyunan.
Sekarang, mari kita lihat diri kita. Betapa kita ini begitu kecil dan begitu kerdil. Di manakah bumi kita tadi yang menurut otak kita sangat luas dan begitu besar itu?
Ia hanya berada di pojokan……
Tetapi meskipun kita kecil, meskipun kita ini kerdil, bahkan sel-sel dan partikel-partikel yang ada dalam tubuh kita semua ada dalam tatapan Allah, semua ada dalam pengawasan-Nya. Bahkan kamera Allah lebih tajam dari kamera super digital tercanggih mana pun yang ada di bumi ini. “Wa nahnu aqrabu ilaihi min habl al-warid” (Dia lebih dekat daripada urat lehermu sendiri).
Maka alasan apa yang membuat kita harus angkuh bin sombong berjalan di muka bumi ini?
Apa karena kita merasa memiliki banyak ilmu? Atau karena kita merasa memiliki jabatan tinggi? Atau karena kita merasa memiliki banyak harta kekayaan? Atau karena kita merasa sering naik haji? Atau karena kita merasa lebih rajin melakukan ibadah-ibadah ritual lain?
Ingat kawan, ilmu kita sangat lah sedikit….”Wama uwtitum min al-‘ilmi illa qaliila”. Jabatan kita adalah amanah…”…Tu’ti al-mulka man tasyaa wa tanzi’u al-mulka mimman tasyaa..…” .
Harta kekayaan hanya titipan….”Yahsabu anna maalahu akhladahu, kallaa…”.
Rasulullah (setelah turunnya syari’at berhaji) meskipun beberapa kali memiliki kesempatan berhaji, tapi beliau hanya melakukannya sekali.
Surga tidak layak untuk diklaim oleh siapa pun. Karena pernah suatu ketika ada seorang wanita yang “divonis” masuk neraka oleh Rasulullah. Padahal ketika itu hampir semua orang tahu bahwa wanita tersebut adalah ahli ibadah. Kesalahannya waktu itu hanya karena ia zholim terhadap seekor kucing. Kepada hewan saja kita harus berlaku baik, apalagi kepada manusia….(waduh…gue sering nginjak semut, bunuh nyamuk, mukul tikus, nyindir temen, ngomongin orang, heuh!! Maaf, maaf…..).
Kita sangat tahu dan hafal bahwa Allah Maha Besar, tetapi kenyataannya kita masih saja membesar-besarkan selain Yang Maha Besar (ya atasan lah, boss lah, pejabat lah, selebritis lah…de el el lah….).
Kita sangat sadar bahwa kita ini “kecil”, tapi kenyataannya masih saja kita membesar-besarkan diri kita yang “kecil” (tapi kalo badan emang kecil alias pendek, ikutan ortopedi aja, atau kalo gak, banyak minum susu, tapi jangan yang merk nya “endek”, ntar gak tinggi-tinggi tuh badan…).
Hidup ini berputar. Jadi tidak selamanya jabatan, harta dan kekayaan itu melekat pada diri kita, dan semua itu tidak bakal ditanya oleh para malaikat (hahaha…kaya udah pernah nyoba mati aja gue, ya maaf…).
Dan di antara yang bakal ditanya (ni kata tuan guru yang katanya sabda Nabi lho ya…) “…’an maalihi min aina iktasabahu wa fiima anfaqahu” (….tentang hartanya, dari mana ia dapatkan dan ke mana ia belanjakan).
Semoga para guru senantiasa ikhlas dalam mentransfer ilmu-ilmunya. Semoga para pejabat senantiasa adil terhadap rakyatnya (tanpa kami, kalian bukanlah siapa-siapa. Tapi tanpa kalian, kami tetaplah kami, rakyat…hidup rakyat!!!!!!). Semoga para hartawan senantiasa mau berbagi dengan kaum miskin (lagi-lagi minjem istilah orang, si kaya gak bakal ada tanpa si miskin, hidup miskin!!!!). Semoga saudagar-saudagar yang sering naik haji mau memberi kesempatan kepada tetangga-tetangganya yang tidak mampu. Dan semoga para ahli ibadah senantiasa mendo’akan saudara-saudaranya yang lain agar juga rajin dalam beribadah. A.M.I.I.I.N.
(Banjarmasin, 20 Okt 07)

Bolehkan?

Aku
tidak mau sok idealis. Karenanya aku hanya ingin bermimpi. Aku mencoba berani
untuk bermimpi bahwa kampungku nun jauh di ujung Propinsi Kalimantan Selatan
itu suatu hari nanti bisa tertata rapi, bukan hanya bentuk fisiknya, tapi juga
mental para penghuninya. Baik yang asli maupun yang numpang (meskipun
kenyataannya setiap hari para penduduk asli sana merasa “numpang” di rumahnya
sendiri). Aku sangat ingin sekali berani bermimpi bahwa biaya pendidikan di
kampungku gratis total. Aku sangat ingin berani bermimpi bahwa biaya kesehatan
di sana juga gratis total. Aku ingin bermimpi bahwa suatu hari nanti para ulamalah
yang menandatangani pembuatan Surat Keterangan Kelakuan Baik. Aku juga ingin
memberanikan diri untuk bermimpi bahwa orang-orang yang ada di sekitar
kampungku itu mau bangkit menuntut pemerintah daerah akan hak-hak mereka yang
banyak dikebiri. Dan semoga kenyataannya malah pemerintah yang tau diri untuk
mau berbagi rezeki.

Dulu,
ketika aku masih kanak-kanak, setiap ada peningkatan dari hasil usaha tambang
yang ada di sana, selalu diiringi dengan tasyakuran. Entah dengan makan-makan,
ataupun dengan amal nyata berupa perbaikan-perbaikan infrastruktur. Penambalan
jalan-jalan yang berlubang, penyemprotan selokan-selokan, pembuatan
taman-taman, dan lain-lain. Padahal sepertinya, penghasilan sekarang ini meningkat
sangat jauh berlipat-lipat. Tapi pemandangan indah seperti waktu aku masih
kanak-kanak sepertinya tidak tampak.

Entah
sekarang ini orang sudah kurang memahami konteks kebersyukuran, atau memang
kita sedang terjebak dengan nafsu “serakahisme” yang membabi buta? Bukankah kalau
kita tidak bersyukur itu sama artinya kita kufur? Dan ketika kita kufur,
bukankah potensi azab Allah lebih dekat merapat? (Seperti bom waktu
saja…hayuuu…)

Lagi-lagi
aku hanya masih berani bermimpi saja…

Siapakah
yang berkenan membantuku untuk mewujudkan mimpi-mimpiku itu?

Si
Palui pernah berkomentar: “nyaman waktu jaman penjajahan bahari daripada jaman
mardika kaya wahini. Bahari, aku makan tinggal makan, guring tinggal guring,
bapitrah gin ada nang mambayari. Mun wahini, aku lapah bacari, mamikirakan
biaya sakulah anak, pangguringannya, pamakannya, fitrahnya….”

Jar
Garbus: “nyata ai bahari tu kita nyaman, wayah itu kita masih berstatus anak,
mun wahini status kita sudah jadi kuitan lui ai…”

Vitamin “P”

Bulan suci ramadhan, bulan
penempaan…kalo meminjam istilah Aa Gym, kita ini layaknya seperti ulat bulu
yang menjijikan yang berada dalam sebuah kepompong. Bulan ramadhan ibarat
kepompong yang menjadi tempat si ulat berproses untuk kemudian berubah menjadi
kupu-kupu yang cantik, yakni hamba Allah yang bertaqwa.
Kalaulah ibadah ritual lain
hikmahnya kembali kepada si pelaku, maka ibadah puasa melibatkan kepentingan
Allah, (fa innahu li wa ana ajzi bihikata Allah).
Kita hampir tidak pernah lupa
untuk memberi asupan makanan kepada fisik dan jasad kita. Tapi sesering apa
kita memberi asupan makanan untuk ruh kita?
Bulan ini menjadi istimewa karena
juga menyediakan ganjaran-ganjaran yang super banyak bagi pelaku aktivis
ibadah, pahala sunat bernilai pahala wajib –yang dikerjakan pada bulan lain-, pahala
wajib dilipatgandakan menjadi beratus kali lipat. Maka sangat sayang kalau
momen ini terlewatkan begitu saja….
Kedewasaan dalam beribadah
sangatlah mempengaruhi efek dari ibadah itu sendiri. Orang yang masih
kekanak-kanakkan (maaf) dalam ibadahnya, hanya akan menyusahkan hati dan perasaannya.
Nah seperti apa seh “dewasa” dalam beribadah itu?
Ketika kesadaran bahwa kita
tercipta hanya untuk beribadah kepadaNya tertanam, maka disitulah cikal bakal
lahirnya keikhlasan menghamba itu muncul. Selanjutnya kita juga harus sadar,
bahwa selain repot mengatasi keinginan diri sendiri (hawa nafsu), kita juga
berhadapan dengan musuh abadi, yaitu iblis setiap saat. Lebih baik lagi kalau
kita sangat mengenali musuh kita tersebut (identifikasi dulu…). Pertama, iblis
bisa melihat kita, sedangkan kita tidak bisa melihatnya (maka ibarat dua
petarung, sudah barang tentu kita akan jadi bulan-bulanannya, kalau nggak babak
belur, ya mati konyol). Kedua, pekerjaan dia sedari dahulu kala cuma satu,
yakni menggoda kita, sedangkan pekerjaan kita teramat banyak (bangun tidur aja
udah mikir macam-macam, ya pekerjaan, kampus, sekolah, bayar kos-kosan, de el
el, pko’ nya B.A.N.Y.A.K. B.G.T.). Ketiga, iblis menyerang kita keroyokan,
sedangkan kita menghadapinya cuma sendirian (secara logis kita sangat mustahil
untuk menang). Nah ketika kita sadar bahwa setiap hari kita berjibaku
menghadapi musuh yang maha berat, maka tidak ada pilihan lain bagi kita selain
meminta perlindungan kepada Allah. Analoginya, ketika kita berhadapan dengan
anjing galak, maka satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri, ya minta tolong
sama pemilik anjing. Begitu juga dalam hal ini, jelas-jelas kita di bawah
tekanan iblis, maka satu-satunya cara ya meminta perlindungan kepada Allah…”wa
imma yanzaghannaka min as-syaithan nazghun fas ta’idz billah…
(diantaranya dengan
zikir, dan yang penting selalu merasa terkoneksi dengan Yang Di atas…)
Kalau di bulan ramadhan iblis
sedang di-non-aktifkan oleh Allah, maka kesempatan istirahat dari
pertarungan ini sebaiknya kita manfaatkan dengan mengoleksi amal ibadah. Dan indahnya
Islam, ibadah tidak melulu yang berbentuk ritual saja, tapi ada ibadah-ibadah
lain yang berbentuk sosial. Banyak amalan akhirat tapi ia hanya bernilai dunia,
atau sebaliknya, banyak amalan dunia tetapi ia bisa bernilai akhirat selama
niatnya tepat, demikian sinyalemen dari Rasulullah. Ini menandakan bahwa segala
aktivitas dapat bernilai ibadah asalkan kita ikhlas dan ridha. So, tidak ada alasan
bagi kita untuk tidak sempat “menikmati” ramadhan hanya karena merasa sibuk dengan
urusan-urusan lain, karena semua bisa bernilai ibadah…sehingga puasa kita bukan sekedar haus dan lapar…

Tahun diulang…

Hmmm……Ulang Tahun….
Sebenarnya Ulang Tahun itu
pertanda apa sih? Tanda umur panjang? atw malah sebaliknya? Bukankah semakin
hari sebenarnya umur kita semakin pendek? "jatah" kita mampir di
dunia ini smakin sebentar? Jarak kita dengan kuburan pun smakin dekat? (au
hiiii…. glavvv…di sana gelavvv mksudnya) n’ sudahkah kita mengisi hari2 ini dengan amal yg baik?
bukankah pesan Nabi: "Sebaik-baik kamu adalah yang panjang umurnya, dan
berkualitas amal perbuatannya"??
Sementara banyak orang yang
bersikap menunda-nunda taubat karena kepengen "ngakali" Tuhan,
ya…seakan-akan doi tau bahwa umurnya sangat panjang, lalu dia hanya menunggu
masa tua nya utk "mau" berbuat baik, -bahasa surganya “amal soleh…”-
(gw, gw, sadarkan aku Tuhan…).
Kesempatan berbuat baik itu cuman sekarang, ya
di dunia ini, karena klo udah di akhirat jangankan teman, sahabat, tetangga dan
lingkungan kita, orang tua kita sendiri pun tidak mampu kita tolongin atau
sebaliknya, dan bisa jadi mereka tidak mengenali kita lagi…artinya: kesempatan
tolong menolong itu, ya di dunia ini…sebab di hari kebangkitan masing2 kita
pasti sibuk dengan diri dan amal perbuatannya…
Karena itu, mari kita berbuat
baik terhadap lingkungan sekitar kita, mumpung masih di dunia neh fren…..Ortu,
saudara, teman, sahabat, tetangga (yg terdekat saja dulu…), semua berhak mendapat perlakuan baik dari kita…begitu juga lingkungan alam sekitar, mereka harus
mendapat hak rawat yang proporsional, artinya kita jangan hanya bisa mengeruk
kekayaan alam tertentu tanpa ada proteksi terhadap kehidupan alam lainnya,
(yah, ky’ di kampung gw gitu deh, minyak n batu bara dikeruk orang setiap hari…).
Makna bersyukur dalam al-Qur’an adalah
dengan memanfaatkan kekayaan alam, juga sekaligus merawat dan melindungi alam
dari kerusakan…
Yah, apapun yang tertulis, yang pasti, skrang umurku
nambah lagi, banyak saudara, teman & sahabat yang mendoakan, yah semoga…semoga…

Mati itu Merdeka…(Versi Banjar)

“Ayahanda tercinta, apabila
datang kapada sampian dua urang malaikat nang manjadi wakilnya Allah,
manakunakan kapada sampian….(tarusakan saurang)..” Masih tanginging di talinga
waktu aku manalakinakan almarhum abah pas imbah dikubur. Rasa hanyar haja kajadiannya,
padahal kada tarasa, parak manyalawi sudah. Kaitu pang hidup ni ya kalu? Salalu
kada tarasa.
Amun dihitung-hitung, kada
kahitungan sudah urang nang mati, baik nang kita kenal ataupun kada. Artinya
napa wal? Mati tu pasti datangnya. Nang kayapa kah bantuk & rupanya, itu tatap
kamatian. Atau wan umpama lain (mainjam bahasa al-Qur’an) “setiap nang banyawa
pasti mati”.
Masalahnya, kita tu kadang-kadang
kada suah manyiapakan diri gasan mahadapi kamatian kita saurang….rasa handak
salawasnya ja hidup di dunia ni, padahal tiap urang balum tantu hidup sampai
katuha, banyak ding ai nang mati anum, iya kalo makacil?! (nah, inggih jar
sidin…)
Kisah handak mambunguli Tuhan ha
lalu, maksudnya napa mang?? Kita tu rancak handak mambunguli Tuhan, buktinya na
lah, kita rancak luku lih baistilah bamakasiat ataw kada malaksanakan kawajipan
sabagai hamba Tuhan, dengan alasan kaina haja batubat, mun sudah tuha jar,
saakan-akan nang wajip babuat baik atau nang harus rajin baibadah tu kaum tuha
haja, nang anum-anum ni tampulu anum jadi gawi baramian tu pang tarus, biar
malanggar aturan, asal rami ja, iya luku julak, kayapa manurut pian?? (Kada
satuju aku, jar sidin).
Jadi kasalahan kita kaum anum ni,
selalu marasa umur ni kita saurang nang maatur, siapa nang kawa manjamin kita
hidup sampai katuha?? Jadi kadada salahnya pang boss ai, amun matan wahini
tunggal ikitan kita manggawi kawajipan-kawajipan, syukur-syukur amun kawa
manambahi lawan amal-amal nang sifatnya anjuran.
Pasan Nabi, “urang nang cardas tu
adalah urang nang salalu manyiapakan dirinya mahadapi kamatian”.
Amun taingat abah ulun wan
parjuangan sidin mamimpin kaluarga, asa handak manangis tarus mata ni, tapi mun
ingat betapa sidin tu sudah mencapai kanikmatan nang luar biasa, jadi takurihing
n’ rasa tanang hati ni. Urang guring tu nyaman dan nikmat kalo wal? Apalagi mun
guringnya balawasan…
n’ smoga abahnda tercinta nang
kaya itu jua…nikmat & damai…
(lagi kaganangan sidin ih….)

Apa kata Dunia..

"Ini nih, legalisasi maksiat…"
"maksudnya?"
"iya, yang model begini nih, yang memprmudah akses maksiat.."
Agak terhenyak, tapi aku berusaha tenang.
"Bang, duduk dululah…kita diskusikan, mana yang mnurut abang ini pelegalan maksiat" aku masih penasaran.
"Ya, tempat kamu ini, klo’ disainnya ky’ gene, ni kan sama halnya kamu menjadi fasilitator para klien utk berbuat n’ melihat gambar2 terlarang…" jelasnya berapi2.
Eit dah…puyeng ga? puyeng gwe…
"jadi, mnurut abang yang salah apanya? tempatnya atw internetnya?"
"Dua-duanya…."
"Tapi kan hidup ini pilihan bang?" sergahku masih dengan nada "tdk terima" klo’ dituduh sebagai mediator.
"maksud kamu?" dia malah balik nanya.
"Iya, jangankan jasa internet begini, tayangan2 televisi skrg apa semuanya mendidik? ketika kita disuguhkan adegan2 mesra oleh para artis dlm sinetron2, apa itu tdk berdampak buat yg nonton? apalagi yg nonton bnyak anak mudanya ketimbang org tua.., bahkan kdg2 org tua juga ikut duduk manis di samping putra-putrinya…" berbagai pertanyaan terus kubrondong.
"ya, itu kan…"
"itu kan apa? apa kita musti nyalahin stsiun2 pertelevisian, smntra di tempat lain ada banyak org yg sangat mnikmati film Rahasia Ilahi, kontes Pildacil, Sntuhan Qalbu, ataw Hikmah Fajar atw acara2 positif lainnya" jelasku dg agak sedikit emosi.
si Abang hanya diam.
"Klo smua org yg ngenet di sini fikirannya ‘ngeres’ ky sampean, ya mgkin stiap kali ngenet dia pasti akan searching yg begitu2…Dan knapa tmpatnya ‘tertutup’ krena kita ingin mmudhkn para wanita yg ‘kegerahan’ wat buka khimar dia, shingga pas ngnet dlm posisi bgmn pun mreka tdk merasa ‘risih’, itu saja.." kataku lagi. (smntara apologinya itu dulu lah…).
Itulah sedikit "insiden" yg terjadi beberapa hari yang lalu. Sempat menjadi pikiran, tapi…
Hidup ini kan pilihan, ketika ada 2 hal yg harus kita hadapi, dan itu akan selalu, maka kita akan diharuskan utk memilih..yg baik atw yg buruk? dlm bhs al-Quran: taqwa atw fujur?. Mka ketika plihan itu jatuh kepada salah satunya, itulah jiwa kita saat itu. Menguasai hawa nafsunya atw dikuasai. Dikelilingi Malaikat atw didikte anak buah Iblis? (ekstrem ga tuh…?)
Ibarat sebuah pisau, klo’ di pake bwat mengupas mangga maka ia akan menjadi manfaat, tapi ketika digunakan bwat nusuk orang, maka ia akan menjadi mudharat, begitu pula dengan internet…dan hal2 positif sangatlah banyak dlm pnjelajahan dunia maya ky gini (bngeet..).
Apa harus diakhiri dengan prnyataan: "smua kan tergantung niat…" atau meminjam bahasa Bang napi: " Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari sang pelaku, tapi juga adanya kesempatan…waspadalah!! waspadalah!!" (halah…), au ah…!!
Akhirnya kita memang harus memilih…
Dengan niat & ksempatan yg baik tentunya…
(Apa kata dunia…!!!)

Asykuruka ya Rabb…

Ketika itu, memang sedikit ragu untuk mengiyakan. "Apa tidak salah, para panitia itu?". Akhirnya dengan berbekal sedikit keyakinan, kucoba memotivasi diri. "kalau dirimu mampu, kenapa harus ragu". "ya sudahlah, Bismillah…".
Siang itu, aku dipanggil oleh Pak PuDek. "silakan.." sambut beliau ketika aku muncul di depan pintu. "coba kamu baca…". Setelah beberapa saat terhanyut di keindahan kalamNya, aku berhenti karena kurasa sudah mencukupi. Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan setengah baya dari samping ruangan. "ahsanta ya ‘Ali.." Yang lain menyahut "quwais, quwais…". Ternyata, ruangan itu hanya dibatasi oleh tembok-tembok tipis, di atasnya tidak ada pemisah, sehingga suara siapapun di samping ruangan akan kedengaran di ruangan lainnya. Aku hanya tertunduk sambil berfikir keras. "ya Allah, seandainya mereka tahu, betapa si bodoh ini hanya bisa membaca ayatMu di tenggorokannya saja, belum optimal dalam aplikasi nyata di kesehariannya, sangat jauh dari nilai baik seperti yang mereka teriakkan barusan, seandainya….".
Pak PuDek lalu memberikan seuntai nasehat sejuk, betapa al-Qur’an itu sangat agung dan mulia. Dan di antara keindahannya, ia bisa menjadi bacaan yang dapat menggugah hati apabila dibacakan dengan suara yang merdu dan menyentuh. Aku hanya terdiam. Dalam hati, muncul sebuah tekad "setidaknya aku memiliki niat yang kuat untuk memperbaiki diri".
Siang itu, momen yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sang tamu agung telah masuk ke Auditorium Utama. Seorang Syeikh terkenal karena suaranya yang familiar di telinga kaum muslimin sedunia. Beliau adalah Imam Masjidil Haram. Syeikh Abdurrahman al-Sudais. Degup jantungku tiba-tiba berdetak cepat. Ingin rasanya cepat-cepat meninggalkan ruangan itu. Namun apalah daya…akhirnya kucoba mengusir keraguan dengan sedikit berintuisi "sudahlah, nikmati saja, toh beliau juga manusia". Agak sedikit lega memang, "ya sudahlah, Bismillah…" tekadku.
Aku merasakan tatapan ganjil dari teman-teman. Itu tatkala MC memanggil sebuah nama yang tidak asing namun agak aneh. "maaf deh kalo’ si bodoh ini ternyata yang harus maju.." batinku. Ini memang bukan kesalahan. Tapi aku sadar diri. Didukung oleh ekspresi teman-teman yang seakan-akan "tidak mempercayai" kenyataan ini.
Dua halaman kusentuh hati ini melalui ayat-ayatNya. Aku berjibaku dengan diriku sendiri. Semoga dengan begitu, tidak berpengharapan pada hal-hal lain. Terbayanglah potret diri si bodoh "Betapa hina nya, betapa rendahnya, betapa jahatnya, betapa buruknya, betapa nakalnya, betapa…betapa…namun engkau lihat, ternyata Allah begitu sayang pada dirimu. Begitu baik terhadap nasibmu…". Dan kalaupun saat itu ada orang lain yang tersentuh, semoga si bodoh ini kecipratan hidayahNya.
Setelah acara selesai, banyak komentar-komentar yang menghampiri. Sedari pujian hingga kritikan. Semua kuterima. Aku tidak tahu, apakah harus bangga dengan pujian-pujian itu atau harus sedih. Tetapi yang paling kunikmati adalah kritikan dari teman-teman dekat "walah, ente cuman modal celana kolor doang ya, dari ujung rambut sampai ujung jempol minjem semua…" Duh, jadi malu. Maklum, orang miskin, makanya ga punya banyak stok buat tampil-tampil resmi.
Dalam kisah ini………
Saya hanya ingin berbagi, betapa terkadang kita lupa dengan kebaikan dari sang Pencipta. Setiap hari berbuat dosa. Meskipun secara fiqhiyah itu kategori dosa kecil, misalnya. Tapi kalau selalu dilakukan. Berulang-ulang. Lama-lama akan menjadi besar juga kan?. Bahkan jikalau sepanjang umur kita habiskan hanya untuk beribadah. Pengabdian tersebut belumlah cukup dibandingkan dengan karunia Allah atas diri kita, belum ada apa-apanya.. Tapi meskipun begitu, Allah paling suka mendengar rengekan-rengekan manusia kepadaNya. Melalui do’a-do’a yang kerap mereka lakukan, terutama ketika mengalami berbagai masalah dan kesusahan. Apalagi kalau "tangisan" itu atas dasar kebersyukuran.
Demikian juga diri ini. Seringkali berbuat dosa. Seneng ngeliatin cwek cakep. Kadang ngomongin orang. Duh, banyak deh….(istighfar lay!!). Tapi coba ente lihat, betapa baiknya Allah. Dilahirkannya engkau dari rahim seorang wanita pejuang hebat. Dibelainya dirimu melalui didikan keluarga yang taat. Dianugerahkan fikiran yang sehat. Fisik juga ahsanu taqwim (tidak boleh kufur dengan tampang yg ala kadarnya…). Kuat jasmani dan lentur raga, pko’nya banyak banget deh…dan itu baru yang tampak-tampak saja.
Dan dengan ditampakkan olehNya semua kelebihan-kelebihan itu, seakan-akan Dia ingin menutupi segala aib-aibmu. Ya, seakan-akan engkau begitu baik di mata manusia. Padahal……(walaa taiasu min rauhillah…"janganlah engkau berputus asa dengan segala rahmatNya"). "Terima kasih ya rabb…Engkau buat mereka berbaik sangka kepada hamba, padahal Engkau sangat tahu segala keburukan hamba".
Ini bukan acara narsis-narsisan. Tapi sedikit upaya agar diri ini "mau" senantiasa taat, dan aku ingin memulainya dari rasa syukurku (Wa amma bini’mati rabbika fahaddits…).

AbOuT LuV…..

Awal mula dosa yang dilakukan anak Adam adalah pembunuhan, apa pasal? apa sebab?
iri hati lah pangkal segalanya…
Banyak niat yang baik, tetapi tidak menghasilkan sesuatu yang baik karena tidak disampaikan dengan cara yang bijak..
Dua orang sahabat, akan menjadi seteru yang hebat ketika iri hati menguasai keduanya, atau salah seorang saja..
Mengapa?
Kata pepatah Arab: "wa ‘ainurridho ‘an kulli ‘aibin kaliilah, kama anna ‘ainassukhthi tubdi al-masawiyaa" (artinya apa ya…?)
"Orang kalo’ udah ridho terhadap sesuatu, mskipun sesuatu itu sangat jelek/bodoh/penuh aib/jahat ataw apalah (yg mengandung unsur2 keburukan), dia pasti tetap suka, senang, memuji2, "nrimo"…Namun begitupula sebaliknya, klo’ dia sudah benci terhadap sesuatu, mskipun sesuatu itu baik/bermanfaat/pintar/"bersih"/rajin, suka menabung & tdk sombong ataw apalah (yg mengandung unsur2 kebaikan), dia pasti tetap benci, cemberut, mencela2, mengeluh dsb…
Adalah dua sahabatku, yang saat ini sedang terjebak dengan situasi ini, ayolah kawaaaan…….
Ingat masa2 kebersamaan kita dulu. Jadikan keindahan suasana saat itu menjadi bahan pertimbangan. Apalah artinya seorang wanita, klo’ atas nama "dia" kalian menjadi lemah akal? Pdhal Islam sangat mengormati wanita (di Al-Qur’an nggak ada yg namanya surah al-Rijaal, tetapi ada surah an-Nisa). Jadi jangan jadikan "dia" sebagai alasan perseteruan kalian…
Diamku selama ini, karena kuanggap kalian sudah sangat dewasa. Tahu ranah2 mana yang layak dijadikan lahan kompetisi..(udh pada sarjana toh?)
Maaf neh jadi agak sombong sudah meng"aku"kan diri…Tapi kalian juga kan yg sering "curhat" ke si faqir ini?
Melalui goresan ini, smoga suatu hari, kpanpun itu, kalian bisa memahami…sesulit apa posisiku saat ini…"coz i really luv all of u.."
Aku bukanlah siapa2 utk sanggup mnyadarkan…tapi persahabatan kita lah yg menjadi pelerai sekaligus pemersatu ktegangan kalian…
Pesan Nabi: "Jauhilah iri dengki, karena ia akan memangkas sgala macam kebaikan, layaknya api memakan kayu bakar".
Mari kita sibuk dengan aib dan kekurangan kita masing2. Tidak usah capek dengan kelebihan orang lain, apalgi sampai sakit hati.
Cita2 ku malam ini, melalui do’a yg blum smpt termunajatkan, smoga smuanya akan menjadikan kita smakin dewasa dan hambaNya yg lebih teruji….AMIIIIIIN!!!!!

Keep revolt…!! (spt pesan seseorang saat sempat kuterpuruk…)